DELAPAN DARI 40 PETANI, DARAHNYA KERACUNAN
Sumber: Bali Post
BIBIR DANAU - Puluhan hektar lahan yang ditanami sayur-mayur kini terhampar di bibir Danau Batur. Kegiatan ini diduga salah satu penyebab pencemaran air di danau tersebut.
Petani Bali sudah akrab dengan pestisida. Bahkan, sejak tahun 1974 lalu pestisida dianggap sebagai dewa penyelamat. Termasuk petani sayur di Baturiti dan Kintamani. Pupuk anorganik dan pestisida sudah menjadi ''teman'' petani saat menyemai bibit. Akibatnya, dari tes yang dilakukan pada tahun 2003, delapan dari 40 petani di Kintamani darahnya mengandung racun.
Hamparan perkebunan yang merupakan dataran tinggi menjadi pemandangan tersendiri di Kecamatan Baturiti. Bukan hanya daerah yang tinggi, kini daerah yang landai yakni berada pada lokasi sekitar Danau Beratan, Bedugul juga terdapat pemandangan serupa. Bahkan, kebun penduduk ada yang berjarak sekitar 500 meter dari tepi Danau Beratan yang berlokasi di Desa Adat Kembang Merta. Di daerah ini pun penggunaan pupuk dan pestisida tidak jauh berbeda dari daerah sekitarnya. Penggunaan pestisida menurut petani setempat karena serangan hama sukar ditanggulangi. Mereka mengaku menggunakan pestisida karena harus berhitung masalah biaya produksi dan hasil yang diperoleh.
Petani di Batunya, Candi Kuning, Kembang Merta dan beberapa daerah di Baturiti merupakan daerah penghasil sayuran terbesar di Tabanan. Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, para petani sayur kebanyakan menggunakan pupuk urea dan berbagai jenis pestisida. Menurut penuturan beberapa petani, pemupukan jenis sayuran tertentu seperti kubis, petsai, selada air dan wortel biasanya dilakukan dua kali dalam satu kali panen. Pupuk yang digunakan kebanyakan pupuk urea dan NPK. Sementara itu dilakukan penyemprotan hama dan penyakit tumbuhan dengan menggunakan pestisida berbagai merek. Penyemprotan ini juga rata-rata dilakukan dalam dua kali dalam satu musim.
Menurut data statistik, luas tegal/kebun di Kecamatan Baturiti 3.861 ha dengan jumlah rumah tangga pertanian hortikultura 5.848 dengan sekurangnya terdapat 17 subak abian. Sayuran jenis kubis menempati produksi tertinggi yakni 39.731 ton dengan luas panen 839 ha, disusul tomat dengan produksi 33.457 ton dengan luas panen 1.370 ha.
Sulit Dihindarkan
Penggunaan zat kimia seperti pestisida oleh petani sayur di pinggiran Danau Batur, Kintamani sulit dihindari. Petani setempat ingin yang praktis dan cepat memperoleh hasil. Dibandingkan menggunakan ramuan tradisional yang perlu waktu lama. Akibatnya, ladang sayuran dan berbagai jenis tanaman hortikultura seluas 50 ha di bibir Danau Batur sudah ketergantungan bahan kimia.
Kini di sepanjang bibir Danau Batur, Kintamani dipenuhi hamparan pertanian tanaman hortikultura beraneka ragam jenis. Untuk menghidupkan tanaman itu, petani terlebih dahulu menebarkan pupuk kandang. Sementara dalam menyirami tanaman, petani menyedot air Danau Batur menggunakan mesin. Pemanfaatan pinggir Danau Batur sebagai ladang pertanian terus menjalar. Batu rejeng, bekas muntahan lahar sepanjang Toyabungkah Desa Songan A, B kini telah berubah menjadi ladang tanaman hortikultura. Batu-batu rejeng itu diratakan, agar bisa bertani di atas bebatuan itu terlebih dahulu ditaburkan pupuk kandang. Tidak saja di Desa Songan, sepanjang bibir Danau Batur meliputi Kedisan, Buahan, Batur, Abang Batu Dinding, Trunyan telah disulap menjadi lahan subur tanaman hortikultura.
Sementara itu, Bagian Produksi Dinas Pertanian Bangli Pugra Winata mengatakan sulit untuk menyadarkan petani agar mengurangi pupuk urea dan pestisida. Walau terus dianjurkan, seperti pembasmian ulat menggunakan musuh alami seperti laba-laba.
Menurutnya, luas wilayah pertanian hortikultura di bibir Danau Batur saat ini mencapai 50 ha. Sempat dilakukan uji darah kandungan racun terhadap 40 orang petani pada tahun 2003. Hasilnya, sebanyak 8 orang petani positif keracunan. Petani itu telah disarankan agar istirahat dan pantang bersentuhan dengan racun jenis pestisida, dengan pertimbangan kesehatan.
Artikel Selengkapnya: |
| -10 Danau Rusak Parah Terancam Berubah Fungsi - 20 Tahun Lagi-- Danau Batur Terancam Beracun - Danau di Bali Tercemar-- Bappedalda Prihatin, Pusreg LH Bentuk Tim - DELAPAN DARI 40 PETANI, DARAHNYA KERACUNAN - Empat Danau di Bali Tercemar Zat Kimia - Saat Kesadaran Terlepas - Dijual Murah: Tulang-Belulang Nenek Moyang! - Pertanian Bali: Merusak Diri |