Pertanian Bali: Merusak Diri!

 

Oleh: Pande Putu Setiawan

 

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh UPTD Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Bali berejasama dengan Bali Post, ditemukan bahwa semua danau di Bali kualitas airnya sudah berkurang. Salah satunya adalah danau Batur dimana tingkat COD (Chemical on Demans)-nya melebihi ambang batas berarti air danau tersebut telah dicemari oleh zat-zat kimia. Ditemukan kandungan zat phospat yang tinggi kemungkinan karena aktifitas pertanian di sekitar danau tersebut.

Ironisnya lagi air tanah dan danau itu adalah cadangan sumber air utama Bali dan air untuk kebutuhan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat di seputaran pesisir danau Batur. Tidak bisa dihindari tingkat kesehatan mereka menjadi semakin buruk saat ini dan kedapatan penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak pernah ditemukan seperti kanker ganas yang menyerang organ vital tubuh, dll, yang umumnya dipicu oleh zat-zat mimia dari pestisida, herbisida, fungisisda tersebut yang mereka gunakan secara berlebihan.

Selain berakibat buruk pada masalah kesehatan tentunya ekosistem alam danau juga telah mulai berubah. Gulma-gulma dan jelaga yang sebelumnya tidak tampak ada di pinggiran danau saat ini telah tumbuh seiring sebagian pinggiran danau diuruk dengan tanah untuk menambah luas lahan pertanian yang memperburuk keindahan danau. Belum lagi debit air yang terus-menerus menurun, tak mustahil suatu saat ia akan benar-benar kering.

Kebutuhan hidup manusia telah menjadikan alam sebagai tumbal dan juga tanpa sadar mereka telah secara pelan-pelan meracuni diri sendiri dan juga terhadap konsumen yang mengkonsumsinya. Sulit memang untuk menghindari hal seperti ini yang telah terjadi puluhan tahun dan secara ekonomis telah memberikan peningkatan taraf hidup yang signifikan kepada mereka. Begitu juga ketika dampaknya tidak muncul secara langsung.

Tapi tak ada salahnya kita mulai memperbaiki diri. Diperlukan edukasi yang lebih banyak dan intensif kepada para petani ini oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah Bangli untuk mengurangi pemakaian pestisida anorganik untuk mulai pelan-pelan memanfaatkan kembali pupuk, pestisida, fungisisda dan pola-pola bertani organik. Selain mendapatkan hasil pertanian yang lebih sehat, saat ini harga bahan makanan organik juga cukup baik sehingga tentunya tidak akan mengurangi pendapatan mereka.

Secara perlahan-lahan ekosistem pinggir danau akan bisa diperbaiki, kandungan bahan kimia yang sudah telanjur masuk ke tanah akan diserap tanaman, sehingga unsur hara bisa dikembalikan. Dan kesehatan masyarakat pesisir danau secara perlahan-lahan bisa ditingkatkan kembali. Selain tentunya secara ekonomis mereka tetap bisa memperbaiki taraf hidupnya.

Semoga keinginan itu tak hanya sebatas mimpi.

 

 

Artikel Selengkapnya:
-10 Danau Rusak Parah Terancam Berubah Fungsi
- 20 Tahun Lagi-- Danau Batur Terancam Beracun
- Danau di Bali Tercemar-- Bappedalda Prihatin, Pusreg LH Bentuk Tim
- DELAPAN DARI 40 PETANI, DARAHNYA KERACUNAN
- Empat Danau di Bali Tercemar Zat Kimia
- Saat Kesadaran Terlepas
- Dijual Murah: Tulang-Belulang Nenek Moyang!
- Pertanian Bali: Merusak Diri