"Sandal Converse Hitam"
Oleh: Pande Putu Setiawan
Sering orang tua itu terlihat datang ke rumah.
Siapakah gerangan dia.?
Menebar senyum, wajahnya yang lebih mirip spesies Phytecantropus daripada
Homo Sapiens.
Ini kenyataan, bukan berlebihan.
Tulang lengan, betis, dan pipi begitu kekar, sekekar bukit yang dia
turuni untuk bertemu Bapak.
Telapak kaki yang melebar, karena seumur hidup hanya beralaskan kulit.
Sampai begitu keras sekuat sepatu besi kuda.
Ini kenyataan, bukan berlebihan.
Ia mungkin akan disimpan di museum, kalau saja dia tidak hidup lagi.
Dia satu-satunya spesies punah yang masih hidup.
Pakaiannya yang juga se-antik wajahnya,
Pun kalau terlihat sama bule akan dibeli mahal.
Ia tinggal di kampung atas.
Segala kebutuhan bapakku akan bambu, kayu dan tenaga dia selalu datang
tanpa diminta.
Seakan dia mengerti bahasa angin yang berhembus segar di bukit.
Aku semakin bertanya,
Seperti apakah gerangan kehidupannya?
Suatu saat aku pergi jauh ke kampungnya di atas bukit,
Sebuah kampung dengan latar alam yang begitu cantik.
Aku bertemu dengan bapak tua itu kembali.
Senyum segar sumringah mengembang dari wajah tua lugu namun bijak.
Aku pun menyapanya dengan senyum walau senyumanku lebih kecut dari dia.
Bertukar kabar tentang hari-hari terisi,
Sembari membawakan beberapa lembar baju kaos bekas.
Bekas sumbangan dan lomba sepeda gembira.
Dia melihat sandal converse hitamku.
Sandal yang telah aku pakai dari main bola di lapangan tanah sampai
ke ujung Alaska.
Sandal size 44, yang orang bilang sandal kapal, tapi sangat aku suka.
Kalau ia sudah butut aku selalu menggantinya dengan sandal Converse
hitam sama.
Pak tua itu sangat tertarik melihat sandal yang mungkin
seukuran telapak kakinya yang lebar itu.
Aku lalu menawarkan untuk memberikan sandal itu kepadanya.
”Ini buat bapak kalau bapak mau?”
Lalu ia menjawab:
”Saya telah terbiasa dengan ketiadaan dan kesederhanaan ini.”
Bagaimana dengan Anda?
Kintamani,
Sept 2007
untuk Wa Ruma
Puisi & Risalah lain:
- Sandal Converse Hitam
- Kampung Suci
- Surga Itu Ada
- Tahun Baru di gunung
dikutip dari:
Buku SAMSARA 'Kita Semua Adalah Monyet' Karya Pande Putu Setiawan.
selengkapnya >>>